Tuntunan Umroh Lengkap bagi Wanita

Tuntunan Umroh Lengkap bagi Wanita

Walaupun secara umum pria dan wanita sama-sama dapat melaksanakan ibadah umroh, namun ada kondisi tertentu dimana terdapat perbedaan ketentuan dan cara pelaksanaannya khusus bagi wanita. Hal ini bukan untuk membeda-bedakan antara wanita dengan pria, namun bertujuan untuk meningkatkan keamanan dan kenyamanan mereka selama melaksanakan ibadah umroh. Berikut adalah beberapa hal mengenai tuntunan umroh bagi wanita.

 tuntunan umroh

Hal-Hal yang Diwajibkan

Ada beberapa tuntunan umroh yang diwajibkan bagi wanita, meliputi:

  • Harus didampingi oleh mahramnya, baik orang tua, suami, saudara kandung, ataupun wanita yang dipercaya lainnya dibuktikan dengan surat keterangan mahram. Jika umroh bersifat wajib seperti umroh karena nadzar dan calon Jemaah wajib akan keamanannya sendiri, maka ia diperbolehkan untuk berangkat sendiri.
  • Bagi yang sudah berumahtangga, wajib mendapatkan ijin dari suami. Di dalam syariat Islam, perintah suami merupakan hal yang harus dilaksanakan saat itu juga, terutama dalam tujuan kebaikan. Sementara itu, pelaksanaan ibadah umroh masih bisa diundur sampai suami memberikan ijin.
  • Bagi wanita yang sedang dalam masa iddah karena suaminya meninggal, maka ia tidak boleh alias haram untuk menunaikan ibadah umroh. Hal ini berlaku jika suami meninggal sebelum masuk ke dalam ihram. Jika wanita sudah ihram, namun suaminya tiba-tiba meninggal, maka ia tetap diperbolehkan meneruskan ibadah umroh.
  • Bagi wanita yang sedang dalam masa iddah setelah bercerai dengan suaminya, maka mantan suami memiliki hak untuk melarangnya berangkat umroh sampai masa iddahnya berakhir.
  • Wajib menutup aurat, namun tidak diperbolehkan menggunakan cadar atau menutup muka di dalam ihram.

Hal-Hal yang Dianjurkan

Selanjutnya, ada beberapa tuntunan umroh yang sifatnya dianjurkan, meliputi:

  • Jika wanita sedang memasuki masa haid atau menstruasi, ia tetap diperbolehkan berniat ihram. Jika yakin bahwa masa haidnya akan selesai sebelum meninggalkan Mekkah dan menjalani proses tawaf, sa’I, dan tahalul, maka ia bisa memasuki masa ihram dan mengikuti segala larangannya. Ia harus segera melanjutkan ketiga proses tersebut setelah haid benar-benar selesai. Wanita diperbolehkan meminum obat pencegah atau mempercepat haid selama tidak menimbulkan mudharat bagi dirinya.
  • Memakai inai pada 2 telapak tangan sampai pergelangan sebelum masuk ke dalam ihram, serta bagian wajah untuk menutupi warna kulit. Jika dilakukan sesudah ihram, maka hukumnya menjadi makruh dalam tuntunan umroh.
  • Dianjurkan mengucapkan lafadz talbiyyah dengan volume suara yang hanya dapat didengarkan sendiri saja. Jika diucapkan dengan keras, maka makruh hukumnya.
  • Diperbolehkan menutupkan ujung kain penutup kepala ke wajah, namun dengan cara direnggangkan ke wajah.
  • Diperbolehkan menggunakan pakaian yang menutupi badan, kecuali sarung tangan. Jika tetap ingin menutupi telapak tangan, maka hanya diperbolehkan menggunakan kain lain yang terpisah.
  • Tidak dianjurkan untuk mengusap, mengecup, dan meletakkan dahu pada Hajar Aswad saat proses thawaf, kecuali jika area thawaf sepi dari kaum laki-laki.
  • Tidak dianjurkan untuk mendekat ke Ka’bah saat thawaf, kecuali jika area tersebut sepi dari kaum laki-laki.
  • Tidak disunahkan iththiba’ dan lari kecil-kecil saat proses thawaf.
  • Tidak disunahkan lari kecil-kecil saat sa’i.
  • Dianjurkan untuk memotong sebagian rambut sedikit saja saat melakukan tahallul, bukan dengan mencukurnya.
  • Jika sedang haid atau mestruasi, tidak diwajibkan untuk melakukan thawaf wada’ saat akan meninggalkan Mekkah. Wanita haid hanya disunahkan untuk berdiri sembari berdoa dari pintu Masjid Al-Haram.

Jika Anda ingin berkonsultasi lebih jauh mengenai tuntunan umroh, maka Anda bisa datang langsung ke kantor Elharamina Wisata. Di sini, Anda bisa mendapatkan solusi dari segala permasalahan Anda menjelang perjalanan umroh maupun haji, khususnya bagi calon Jemaah wanita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *